Tanggungjawab Orang Tua Terhadap Anak

Oleh: Riwayat,

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.(QS.Tahrim:6). Generasi yang baik, generasi yang cerdas akan berusaha mempersipakan anak cerdas dan soleh. Bukan itu saja, ia akan berusaha memelihara keturunannya, ia akan menjaga  anak-anak mereka. Bukan saja memelihara secara fisiknya belaka, tetapi lebih dari itu juga memelihara hal-hal yang bersifat rohaniah. Ia berusaha memelihara keturunannya dari netaka dunia dan neraka akherat. Neraka dunia merujuk kepada kesengsaraan dunia, sedangkan neraka akherat adalah kesengsaraan abadi.

Meskipun dalam al-Quran ada ayat yang menyuruh untuk memelihara anak dari kesusahan dunia dan kesusahan akherat, tetapi masih ada juga orang yang enggan dan tidak sadar dan bahkan membiarkan anak mereka terlantar di hutan dunia yang makin angker dan menyesatkan. Banyak anak terjebak dalah kehidupan yang menyedihkan. Tetapi keadaan ini tidak membuat mereka sadar akan pentingnya pendidikan anak. Terutama pendidikan yang bersifat rohaniah. Sehingga yang terjadi adalah banyak orang tua yang berusaha menyekolahkan anak-anak  mereka ke sekolah yang katanya menjanjikan masa depan. Keadaan ini diperparah dengan kuranperhatian orang tua terhadfap keagamaan anak. Dan pada akhirnya mereka terjebak kepada kehidupan dunia belaka, kehidupan yang kering dari ruh keakheratan.

Para orang tua banyak terjebak dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia bersifat sementara. Nabai Muhammad Saw menyatakan bahwa kehidupan dunia itu ibarat orang yang sedanag berteduh di sebuah pohon, sete;ah itu ia pergi kembali. Itulah gambaran dunia. Dunia bukan sebuah kekekalan, dunia bukan akhir dari sebuah kehidupan, tetapi dunia adalah lading untuk bercocok tanam kebaikan, dunia adalah tempat mempersiapkan bekal untuk perjalanan ke akherat.

Satu di antara bekal menuju akherat adalah dengan mempersiapkan anak-anak yang soleh, anak-anak yang mempunyai kualitas keislaman, keimanan yang baik kepada Allah. Aidh Al-Qarni dalam buku Falazaatul Akbaad, menyatakan ada sepulh langkah untuk mempersiapakan anak-anak yang berkualitas. Pertama,  dalam memilih istri atau suami hendaknya yang berkepribadian soleh atau solehah.

Jelaslah, bahwa persiapan untuk membentuk dan mempersipakan anak soleh sudah dimulai dari awal pemilihan pasangan hidup. Tidak heran jika Muhammad Saw memberikan arahan dan petunjuk bagaimana seharusnya mencari pasangan yang ideal dan baik dalam rangka mempersiapkan generasi yang soleh. Muhammad Saw menyatakan, bahwa, “seseorang wanita dinikhai karena empat factor, yaitu, karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dank arena agamanya. “(HR. Bukhari). Nah, dari arahan Nabi Muhammad Saw tersebut dapat dipahami bahwa untuk mendapatkan generasi yang baik hendaknya dimulai dengan pemilihan pasangan yang baik. Pasangan yang mampu memberikan jalan dan peluang lahirnya generasi yang cerdas dan membanggakan agaman dan orang tua. Mencari pasangan bukan sekadar pasangan, tetapi pasangan yang mampu mempersembahkan keturunan yang baik dan soleh. Banyak orang berpendapat bahwa factor kecantikan dan kekayaan akan menjadikan keluarga dan keturunan baik, padahal dalam ajaran Islam yang baik adalah faktor agamanya, meskipun tidak mengabaikan faktor yang lain, tetapi yang utama menjadi perhatian adalah faktro agamanya. Dengan faktor agama yang mantap memungkinkan meraih anak-anak yang soleh, keluarga yang mampu memelihara keturunan yang baik dan soleh. Ayah yang baik akan selalu berusaha memilihkan calon ibu yang baik bagi anak-anaknya kelak. Calon ayah yang baik adalah yang dari awala telah mempersiapkan calon ibu yang solelahah.

Dengan persiapan yang matang tersebut diharapkan akan mampu member kontribuysi positif terhadap upaya mempersipakan anak yang soleh. Dalam hal ini dapat juga dicermati bahwa tanggungjawab orang tua terhadap anak-anaknya bukan saja dimulai setelah mempunyai anak, tetatapi dalam upaya persiapan mencari jodoh sudah ada persiapan, sudah ada tanggungjawab. Orang tua yang baik adalah orang tua yang telah dari dini mempersipakan dirinya menjadi orang tua bertanggungjawab.

Hal ini dibuktikan dengan  memilihkan calon ibu yang baik bagi anak-naka mereka.  Kedua, memilihkan nama yang baik. Meskipun afda yang menyatakan apalah arti sebuah nama, tetapai dalam ajaran islam nama mempunyai arti penting, nama adalah doa, maka yang terbaik adalah memilih dan member anam-nama yang baik. Dalam hal ini Nabi Muhammad Saw menyatakan,”baguskanlah anama-nama kalian dan nama anak-anak kalian. Sesungguhnya pada hari kiamat ananti, kalian akan dipanggil dengan nama-nama kalian dan ayah-ayah kalian.(HR. Ahmad).

Dari hadis tersebut, dapat dipahami bahwa nama adalah sesuatu yang p;enting. Memberikan nama yang baik adalah anjuran dan jarana islam. Dengan demikian, member nama yang buruk bukanlah anjuran Islam. Dengan demikian, member nama yang baikm adalah ibadah, karena melakukan  anjuran Nabi Muhammad Saw. Dengan nama yang baik akan member harapan yang baik, nama yang baik adalah doa, sebaliknya nama yang buruk akan menjadi doa yang buruk.ketiga, member ASI sebagimana mestinya.

BIJAK MENYIKAPI UN

Oleh: Riwayat

Pengajar  PAI SMPN 21 Padang

Menteri Pendidikan Nasional  menyatakan  bahwa kecurangan-kecurangan dalam  ujian nasional(UN)  hendaknya tidak membuyarkan semua pelaksanaan ujian nasional. Ibarat ada tikus masuk lumbung padi, yang perlu dicari dan dibunuh adalah tikusnya, bukan membkar lumbungnya. Begitu halnya dengan UN, UN adalah baik untuk generasi bangsa ini, terutama generasi yang pantang menyerah, generasi yang tidak suka belajar keras, dan UN hanya untuk generasi yang siap untuk diuji, siap untuk meningkatkan kualitas diri.  UN diadakan bukan untuk menyulitkan, tetapi untuk menjadikan semangat anak bangsa dalam belajr dan menempa diri. Dengan  adanya UN siswa menjadi makin rajin untuk mempersiapkan diri secara matang. Klau pun ada siswa yang tidak setuju, atau menolak UN itu wajar.

Kalaupun ada yang menolak  UN dengan alasan tidak adanya pemerataan pendidikan, terutama tentang fasilitas sarana dan parasarana sekolah. Hal  itu wajar, tetapi sebagai orang yang ingin maju tentu alasan kekurangan bukanlah suatu masalah. Yang perlu dipersoalkan adalah bagaimana guru mampu memotivasi siswanya untuk terus belajar dengan segala keterbatasan. Dengan keterbatasan tersebut guru hendaknya mampu memberikan semangat kepada siswanay untuk terus mematangkan diri, meskipun dengan perlengkapan dan fasilitas apa adanya.

Di sisi lain, yang perlu menjadi perhatian adalah guru dalam mendidikan anak siswanya.  Apakah dalam mendidik, atau dalam proses pembelajaran guru telah melakukan dengan benar, dalam arti guru mampu memberi semangat kepada siswanya untuk terus belajar. Apakah guru telah membangkitkan semangat peserta didik untuk terus belajar dengan giat dan rajin. Sudahkah guru memberikan semacam penyadaran  kepada siswa akan pentingnya  belajar.

Guru berperan peting dalam upaya menyadarkan dan meyakinkan siswanya, bahwa keterbatasan fasilitas pendidikan bukan halangan untuk lulus UN. Sebaliknya siswa hendaknya juga diyakinkan bahwa fasilitas pendidikan yang lengkap juga bukan jaminan untuk lulus UN, tetapi yang menjadikan lulus adalah kerja keras dan sungguh-sungguh dalam belajar.

Jadi, tidak alasan menolak UN dengan dalih kekurangan fasilitas. Sebab  fasilitas lengkap belum tentu menjamin siswa akan lulus  UN.  Oleh karena itu, alasan bahwa UN harus dihapus Karena ketidaklengkapan fasilitas dan sarana adalah sesuatu yang tidak masuk akal, sebab  kelengkapan fasilitas dan sarana  di sekolah tidak menjamin peserta didik lulus UN. Sebaliknya   siswa belajar di sekolah dengan keterbatasan fasilitas,   langsung di anggap akan gagal dalam UN. artinya adalah dimana pun siswa sekolah,  mereka sebenarnya mempunyai peluang untuk lulus dan tidak lulus UN. Hal ini memberi kesan bahwa ada peran guru terhadap muridnya dalam upaya membimbing peserta didik hingga lulus UN. Jika dalam proses pembelajaran dan pendidikan siswa tidak mendapat pembelajaran yang baik, maka akan diragukan siswa lulus UN.

Paling tidak, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab kegagalan UN, Pertama: faktor  guru yang tidak berkualitas, tidak berkualitas dalam arti dari segi  proses pembelajaran, masih menggunakan pembelajaran kadaluarsa. Pendidik masih enggan menambah pengetahuan, terutama dalam upaya peningkatan pengertahuan dan dan  metode-metode baru dalam pembelajaran. Ada kalanya pendidik merasa puas dengan ilmu yang didapat selama ini, sehinggga  ada semacam keengganan untuk menambah ilmunya.

Keadaan ini berimbas kepada proses pembelajaran yang tidak sempurna. Tidak sempurna dalam arti siswa tidak  mendapatkan pendidikan sesuai dengan tingkat kecerdasan masing-masing. Peserta didik tidak mendapatkan perlakuan sesuai dengan tingkat kecerdasan dan kebutuhan. Jika hal ini terjadi maka proses pembelajaran tidak akan efektif. Pada  akhirnya siswa akan menjadi korban dari para guru yang tidak memperhatikan kualitas pembelajaran dan perbedaan yang ada pada diri peserta didik.

Kedua, faktor peserta didik. Peserta didik dapat menjadi satu penyebab tidak lulusnya  UN. Hal ini terjadi akibat tidaksiapan  peserta didik itu sendiri. Dapat juga akibat peserta didik tidak belajar dengan serius.  Ketidak seriusan peserta didik dalam belajar, karena tidak mendapatkan motivasi dari gurunya. Sehingga siswa menganggap belajar bukanlah sesuatu yang penting. Bisa juga karena tidak mendapatkan proses pendidikan yang memadai. Sehingga siswa tidak siap dalam menghadapi ujian nasional.

Ketiga, faktor masyarakat. Masyarakat yang dimaksud adalah para wali murid, wali murid dan masyarakat lainnya terkadang membebankan semua tanggungjawab pendidikan kepada sekolah, hal  ini tentunya tidak sejalan dengan pendidikan itu sendiri. Dalam pendidikan ada tiga pilar emas, yaitu sekolah, rumah dan masyarakat, jika  segi tiga emas pendidikan tersebut tidak bersinergi, maka proses pembelajaran dan pendidikan peserta didik akan berjalan tidak seimbang. Dan pada akhirnya yang  menjadi korban adalah siswa itu sendiri.

Masyarakat seharusnya ikut serta dalam upaya mendukung dan bekerjasama dengan pihak sekolah bagaimana memajukan pendidikan, bagaimana mensukseskan proses pendidikan dan pembelajaran. Di sisi lain, kalau ada permasalahan dan kekuarangan  di sekolah seharusnya masyarakat ikut serta memberikan solusi terhadap permasalahan tersebut.

Keempat, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)  belum bekerja maksimal.  LSM , terutama yang bergerak dalam pendidikan perlu mengintensifkan pengawasan. Selain pengawasan, LSM pendidikan perlu juga memberi solusi terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi oleh sekolah. LSM dapat bekerjasama dengan pihak sekolah utnuk secara bersama ikut memajukan  pendidikan. LSM tidak hanya sekedar mengkritik, tetapi hendaknya juga mencarikan jalan keluar atas perasalahan yang dihadapi oleh isntitusi pendidikan. Dengan adanya kerjasama yang baik, dimungkinkan sekolah akan maju dan mampu melengkapi berbagi kekurangan yang selama  ini dikeluhkan.

Selain empat faktor tersebut, adanya ketidakmerataan pendidikan merupakan satu penyebab siswa tidak  UN. Untuk itu pemerataan pendidikan, baik dari segi kualitas, kuantitas, fasilitas, sarana dan parsaranya. Kalau pun masih belum memadai atau pemerataan masih membutuhkan waktu yang lama. Maka perlu adanya upaya untuk menyiasati hal tersebut.  Bagaimana  menyikapi dan menyiasati kekurangan  dan ketidakmerataan pendidikan di negeri ini, apakah itu fasilitas, sarana dan parasarana. Yang jelas sebagai anak bangsa yang baik adalah bagaimana kita selalu berusaha menyikapi hal tersebut dengan arif. Sebagai generasi bangsa yang baik, tentu perlu mengingat kembali, kata bijak berikut ini,” jangan Tanya apa yang telah diberikan negeri ini untuk kita, tetapi tanyalah apa yang telah kita berikan untuk negeri ini.”

Banyak di antara kita masih berharap negeri ini memberikan sesuatu untuk kita, bukan kita yang berusaha memberikan sesuatu untuk negeri ini. Seharusnya apapun kekurangannya, sebagai pendidik yang baik, tentu akan terus berusaha bagaimana peserta didik dapat belajar secara optimal, bagaimana peserta didik mendapatkan proses pembelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan dan tingkat kecerdasannya. Seharusnya ini yang perlu kitab pikirkan, bukan menunggu fasilitas lengkap baru memikirkan pembelajaran yang baik, jika kita selalu menunggu sempurna dan faslitas lengkap dari Negara lalu kapan kita akan memperbaiki generasi bangsa ini?

UN  hendaknya jangan dijadikan sebagai sarana mencari simpati atasan, apalagi dengan cara-cara yang tidak jujur. Padahal kalau dicermati UN diadakan untuk membentuk manusia Indonesia yang tanggguh, suka bekerja keras, belajar keras, pantang menyerah, hati-hati dan kejujuran. Untuk itu pelu perbaikan di segala lini pelaksanaan UN  agar hasil UN memuaskan dan membanggakan semua pihak. Hal ini juga diwanti-wanti oleh Mendiknas. Menurut Mendiknas, untuk mengantipasi kekuarangan pelaksanaan UN harus diimbangi dengan dengan peningkatan kualitas kesadaran tentang kejujuran. Kejujuran bagi siswa, guru, kepala sekolah, dan masyarakat. Karena pada hakekatnya UN tidak sekadar menguji kemampuan kognitif, tetapi juga  menguji tingkat kejujuran.

BIJAK MENYIKAPI UN

Oleh: Riwayat

Menteri Pendidikan Nasional  menyatakan  bahwa kecurangan-kecurangan dalam  ujian nasional(UN)  hendaknya tidak membuyarkan semua pelaksanaan ujian nasional. Ibarat ada tikus masuk lumbung padi, yang perlu dicari dan dibunuh adalah tikusnya, bukan membkar lumbungnya. Begitu halnya dengan UN, UN adalah baik untuk generasi bangsa ini, terutama generasi yang pantang menyerah, generasi yang tidak suka belajar keras, dan UN hanya untuk generasi yang siap untuk diuji, siap untuk meningkatkan kualitas diri.  UN diadakan bukan untuk menyulitkan, tetapi untuk menjadikan semangat anak bangsa dalam belajr dan menempa diri. Dengan  adanya UN siswa menjadi makin rajin untuk mempersiapkan diri secara matang. Klau pun ada siswa yang tidak setuju, atau menolak UN itu wajar.

Kalaupun ada yang menolak  UN dengan alasan tidak adanya pemerataan pendidikan, terutama tentang fasilitas sarana dan parasarana sekolah. Hal  itu wajar, tetapi sebagai orang yang ingin maju tentu alasan kekurangan bukanlah suatu masalah. Yang perlu dipersoalkan adalah bagaimana guru mampu memotivasi siswanya untuk terus belajar dengan segala keterbatasan. Dengan keterbatasan tersebut guru hendaknya mampu memberikan semangat kepada siswanay untuk terus mematangkan diri, meskipun dengan perlengkapan dan fasilitas apa adanya.

Di sisi lain, yang perlu menjadi perhatian adalah guru dalam mendidikan anak siswanya.  Apakah dalam mendidik, atau dalam proses pembelajaran guru telah melakukan dengan benar, dalam arti guru mampu memberi semangat kepada siswanya untuk terus belajar. Apakah guru telah membangkitkan semangat peserta didik untuk terus belajar dengan giat dan rajin. Sudahkah guru memberikan semacam penyadaran  kepada siswa akan pentingnya  belajar.

Guru berperan peting dalam upaya menyadarkan dan meyakinkan siswanya, bahwa keterbatasan fasilitas pendidikan bukan halangan untuk lulus UN. Sebaliknya siswa hendaknya juga diyakinkan bahwa fasilitas pendidikan yang lengkap juga bukan jaminan untuk lulus UN, tetapi yang menjadikan lulus adalah kerja keras dan sungguh-sungguh dalam belajar.

Jadi, tidak alasan menolak UN dengan dalih kekurangan fasilitas. Sebab  fasilitas lengkap belum tentu menjamin siswa akan lulus  UN.  Oleh karena itu, alasan bahwa UN harus dihapus Karena ketidaklengkapan fasilitas dan sarana adalah sesuatu yang tidak masuk akal, sebab  kelengkapan fasilitas dan sarana  di sekolah tidak menjamin peserta didik lulus UN. Sebaliknya   siswa belajar di sekolah dengan keterbatasan fasilitas,   langsung di anggap akan gagal dalam UN. artinya adalah dimana pun siswa sekolah,  mereka sebenarnya mempunyai peluang untuk lulus dan tidak lulus UN. Hal ini memberi kesan bahwa ada peran guru terhadap muridnya dalam upaya membimbing peserta didik hingga lulus UN. Jika dalam proses pembelajaran dan pendidikan siswa tidak mendapat pembelajaran yang baik, maka akan diragukan siswa lulus UN.

Paling tidak, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab kegagalan UN, Pertama: faktor  guru yang tidak berkualitas, tidak berkualitas dalam arti dari segi  proses pembelajaran, masih menggunakan pembelajaran kadaluarsa. Pendidik masih enggan menambah pengetahuan, terutama dalam upaya peningkatan pengertahuan dan dan  metode-metode baru dalam pembelajaran. Ada kalanya pendidik merasa puas dengan ilmu yang didapat selama ini, sehinggga  ada semacam keengganan untuk menambah ilmunya.

Keadaan ini berimbas kepada proses pembelajaran yang tidak sempurna. Tidak sempurna dalam arti siswa tidak  mendapatkan pendidikan sesuai dengan tingkat kecerdasan masing-masing. Peserta didik tidak mendapatkan perlakuan sesuai dengan tingkat kecerdasan dan kebutuhan. Jika hal ini terjadi maka proses pembelajaran tidak akan efektif. Pada  akhirnya siswa akan menjadi korban dari para guru yang tidak memperhatikan kualitas pembelajaran dan perbedaan yang ada pada diri peserta didik.

Kedua, faktor peserta didik. Peserta didik dapat menjadi satu penyebab tidak lulusnya  UN. Hal ini terjadi akibat tidaksiapan  peserta didik itu sendiri. Dapat juga akibat peserta didik tidak belajar dengan serius.  Ketidak seriusan peserta didik dalam belajar, karena tidak mendapatkan motivasi dari gurunya. Sehingga siswa menganggap belajar bukanlah sesuatu yang penting. Bisa juga karena tidak mendapatkan proses pendidikan yang memadai. Sehingga siswa tidak siap dalam menghadapi ujian nasional.

Ketiga, faktor masyarakat. Masyarakat yang dimaksud adalah para wali murid, wali murid dan masyarakat lainnya terkadang membebankan semua tanggungjawab pendidikan kepada sekolah, hal  ini tentunya tidak sejalan dengan pendidikan itu sendiri. Dalam pendidikan ada tiga pilar emas, yaitu sekolah, rumah dan masyarakat, jika  segi tiga emas pendidikan tersebut tidak bersinergi, maka proses pembelajaran dan pendidikan peserta didik akan berjalan tidak seimbang. Dan pada akhirnya yang  menjadi korban adalah siswa itu sendiri.

Masyarakat seharusnya ikut serta dalam upaya mendukung dan bekerjasama dengan pihak sekolah bagaimana memajukan pendidikan, bagaimana mensukseskan proses pendidikan dan pembelajaran. Di sisi lain, kalau ada permasalahan dan kekuarangan  di sekolah seharusnya masyarakat ikut serta memberikan solusi terhadap permasalahan tersebut.

Keempat, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)  belum bekerja maksimal.  LSM , terutama yang bergerak dalam pendidikan perlu mengintensifkan pengawasan. Selain pengawasan, LSM pendidikan perlu juga memberi solusi terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi oleh sekolah. LSM dapat bekerjasama dengan pihak sekolah utnuk secara bersama ikut memajukan  pendidikan. LSM tidak hanya sekedar mengkritik, tetapi hendaknya juga mencarikan jalan keluar atas perasalahan yang dihadapi oleh isntitusi pendidikan. Dengan adanya kerjasama yang baik, dimungkinkan sekolah akan maju dan mampu melengkapi berbagi kekurangan yang selama  ini dikeluhkan.

Selain empat faktor tersebut, adanya ketidakmerataan pendidikan merupakan satu penyebab siswa tidak  UN. Untuk itu pemerataan pendidikan, baik dari segi kualitas, kuantitas, fasilitas, sarana dan parsaranya. Kalau pun masih belum memadai atau pemerataan masih membutuhkan waktu yang lama. Maka perlu adanya upaya untuk menyiasati hal tersebut.  Bagaimana  menyikapi dan menyiasati kekurangan  dan ketidakmerataan pendidikan di negeri ini, apakah itu fasilitas, sarana dan parasarana. Yang jelas sebagai anak bangsa yang baik adalah bagaimana kita selalu berusaha menyikapi hal tersebut dengan arif. Sebagai generasi bangsa yang baik, tentu perlu mengingat kembali, kata bijak berikut ini,” jangan Tanya apa yang telah diberikan negeri ini untuk kita, tetapi tanyalah apa yang telah kita berikan untuk negeri ini.”

Banyak di antara kita masih berharap negeri ini memberikan sesuatu untuk kita, bukan kita yang berusaha memberikan sesuatu untuk negeri ini. Seharusnya apapun kekurangannya, sebagai pendidik yang baik, tentu akan terus berusaha bagaimana peserta didik dapat belajar secara optimal, bagaimana peserta didik mendapatkan proses pembelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan dan tingkat kecerdasannya. Seharusnya ini yang perlu kitab pikirkan, bukan menunggu fasilitas lengkap baru memikirkan pembelajaran yang baik, jika kita selalu menunggu sempurna dan faslitas lengkap dari Negara lalu kapan kita akan memperbaiki generasi bangsa ini?

UN  hendaknya jangan dijadikan sebagai sarana mencari simpati atasan, apalagi dengan cara-cara yang tidak jujur. Padahal kalau dicermati UN diadakan untuk membentuk manusia Indonesia yang tanggguh, suka bekerja keras, belajar keras, pantang menyerah, hati-hati dan kejujuran. Untuk itu pelu perbaikan di segala lini pelaksanaan UN  agar hasil UN memuaskan dan membanggakan semua pihak. Hal ini juga diwanti-wanti oleh Mendiknas. Menurut Mendiknas, untuk mengantipasi kekuarangan pelaksanaan UN harus diimbangi dengan dengan peningkatan kualitas kesadaran tentang kejujuran. Kejujuran bagi siswa, guru, kepala sekolah, dan masyarakat. Karena pada hakekatnya UN tidak sekadar menguji kemampuan kognitif, tetapi juga  menguji tingkat kejujuran.

OPTIMALISASI KHUTBAH JUMAT

Oleh: Riwayat

Kutbah Jumat belum mampu meredam gejolak kerusakan moral dan akhlak di kalangan umat Islam. Kenyataan ini menimbulkan  keraguan terhadap efektifitas  kutbah Jumat sebagai sarana perbaikan akhlak umat Islam. Ada apa dengan khutbah Jumat? Kenapa khutbah Jumat belum mampu memberi kontribusi yang nyata terhadap perbaikan akhlak umat Islam?

Kutbah Jumat adalah rangkaian ritual ibadah salat Jumat, berfungsi sebagai pengingat dan penyampaian nasehat-nasehat keagamaan. Khutbah Jumat merupakan sarana pembinaan akhlak, moral, dan keimanan umat Islam. Yang biasanya menggunakan lisan dalam menyampaikan pesan-pesan moral keagamaannya. Dengan harapan, adanya khutbah Jumat setipa minggu diharapkan umat Islam tercerahkan, baik dari segi ilmu, moral dan perbaikan akhlaknya.

Akan tetapi, Kutbah Jumat belum mampu membawa perbaikan akhlak umat Islam. Idealnya semakin banyak kutbah di dengar, semakin meningkat keilmuan dan pengamalannya, makin baik akhklaknya. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Sebagai contoh, para pendengar khutbah Jumat, bahkan khatib Jumat pun ada yang tersandung korupsi, suap, mesum, perkosaan dan perbuatan melawan hukum lainnya. Hal ini memberi kesan bahwa kutbah Jumat yang dilakukan setiap seminggu sekali belum mampu mempengaruhi sikap dan pola hidup umat Islam.

Keadaan ini menimbulkan pertanyaan,  kenapa hal ini terjadi. Apakah khutbahnya tidak menarik? Apakah khatibnya tidak berkualitas? Metode pemyampaian yang tidak sesuai dengan keadaan jamaahnya? Atau karena umat Islam sendiri yang enggan melaksanakan  nasihat-nasihat dalam kutbah tersebut.

Realitasnya umat Islam selalu mendengarkan khutbah Jumat, seminggu sekali setiap hari Jumat, paling tidak  mereka mendengarkan kutbah empat sampai lima kali dalam sebulan. Artinya secara materi mereka telah cukup banyak mendapatkan wejangan dari para khatib Jumat. Dengan berbagai macam tema dan topik. Tentunya hal ini cukup memadai dalam upaya meningkatkan ilmu pengetahuan, terutama ilmu keislaman. Tinggal bagaimana mengimpelentasikan ilmu yang didapat dalam kehidupan sehari-hari.

Secara teori memang mudah, akan tetapai secara aplikasi, ternyata banyak umat Islam yang belum mampu mengejawantahkan ilmu yang diperoleh dari Khutbah Jumat tersebut. Sehingga  yang terjadi adalah khutbah Jumat hanya sekedar pengetahuan dan ilmu belaka. Sedangkan dari pelaksanaannya tidak ada. Keadaan ini tentunya memprihatinkan. Karena khutbah Jumat pada hakekatnya bukan  sekedar menjadi ilmu, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana melaksanakan ilmu tersebut, bagaimana melaksanakan dan mengindahkan nasehat-nasehat tersebut dalam dunia nyata.

Ada anggapan, bahwa selama ini  kutbah Jumat tidak berkualitas.  Baik  dari segi kualitas si khatib, maupun kualitas isi dan penyampaian materi khutbah Jumat. Jika anggapan ini benar, maka perlu dikaji dan dicari faktor-faktor yang menyebabkan khutbah Jumat tidak berkualitas. Sebab, jika tidak ada kualitas dan kualifikasi yang jelas, maka khutbah Jumat hanya sekedar ladang mencari penghasilan sampingan, tanpa mempedulikan kualitas materi khutbah Jumat dan pengaruhnya terhadap perbaikan umat . Maka tidak heran jika khutbah Jumat hanya sampai di pintu mesjid, tidak sampai  ke pintu hati para jamaah.

seharusnya, khatib adalah  sebuah profesi yang mempunyai standar tertentu, mempunyai kualifikasi tertentu. Karena khatib akan menyampaikan materi pembelajaran yang berhubungan dengan perbaikan, pendidikan dan pemgembangan sumber daya manusuia.  Khutbah  Jumat adalah sarana pengobatan ruhani, jika khutbah Jumat adalah sarana pengobatan penyakit rohani, maka dibutuhkan para ahli dibidang pengobatan ruhani. Dengan demikian, khatib Jumat membutuhkan tenaga-tenaga professional. Bukan khatib Jumat asal jadi.

Sebagai ilustrasi, kalau orang sakit jantung, tentu yang berkompeten adalah ahli jantung, bukan ahli penyakit kulit, kalau ada orang sakit mata pergi berobatnya, atau yang megobati adalah spesialis mata, bukan  spesialis penyakit dalam. Demikian juga halnya dengan khutbah Jumat. Khutbah Jumt adalah sebuah sarana pendidikan, sudah tentu membutuhkan para khatib yang berkualitas dan ahli dibidangnya.  Bukan sekedar mampu menyampaikan materi, tetapi lebih dari itu khatib Jumat dituntut professional, dan membutuhkan kualitas dan keahlian di bidangya.

Hal ini perlu didudukkan kembali, perlu ada batasan yang jelas, perlu ada kualifikasi. Bukan sekedar kualifikasi, tetapi ada semacam pengakuan dari lembaga tertentu yang ditunjuk untuk melakukan pengujaian, atau semacam sertifikasi khatib Jumat, sehingga adanay lemabg sertifikasi khatib Jumat diharapakan akan meningkatkan kualitas khutbh Jumat.

Dengan adanya sertifikasi khatib Jumat atau semacam Sertifkasi Ahli Khatib Jumat (STAKJ), diharapkan mempunyai pengaruh positif terhadap penyampaikan materi khatib Jumat dan perbaikan akhlak umat Islam.  Dengan adanya sertifikasi khatib Jumat, maka tidak akan terjadi  sembarang orang dapat menjadi khatib Jumat. Jika  khatib Jumat tidak berkualitas, atau tidak mempunyai sertifikasi ahli khatib Jumat, maka kualitas khutbah Jumat diragukan akan berkualitas. Maka sertifikasi ahli khatib Jumat perlu segera dibuat dan dirumuskan

Meskipun  umat Islam mendapatkan empat sampai lima topik khutbah Jumat setiap bulan, terlepas apakah berkulitas atau tidak, ada kesamaan tema dan topik setiap Jumatnya, yang jelas umat Islam telah mendapatkan berbagai nasehat keagamaan. Barangkali kualitas yang masih rendah, berpengaruh terhadap tingkat pemahaman dan penyerapan materi khutbah Jumat itu sendiri. Dan akibat berikutnya adalah tidak terejawantahkannya nasehat-nasehat tersebut dalam kesehariannya.

Ditambah lagi, khutbah Jumat tidak menggunakan kurikulum. sehingga banyak materi yang tumpang tindih, banyak materi khutbah yang berulang-ulang dengan khatib yang berbeda, pengulangan materi yang sama dengan khatib yang berbeda juga menjadi penyumbang kegagalan kutbah jumat sebagai  sarana perbaikan akhlak.

Seharusnya, ada semacam kurikulum, pada setiap daerah tertentu yang dikoordinir oleh Majelis Ulama setempat, atau semacam lembaga-lembaga dakwah Islam. Dengan adanya kurikulum diharapkan ada tujuan yang jelas, ada target yang jelas dalam kurun tertentu. Kalaupun tidak ada kurikulum tingkat nnasional, paling tidak ada kurikulum bersifat kewilayahan, seperti kurikulum khutbah tingkat propinsi, kurikulum khutbah tingkat kabupaten dan kota, yang kesemua itu disusun berdasarkan standar nasional kurkulum kutbah Jumat, dan untuk pengembangannya di serahkan kepada setiap daerah atau wilayah masing-masing.

Selain perbaikan kurikulum, perlu juga adanya tindak lanjut dari materi kutbah Jumat yang telah disampaikan., sehingga apa yang telah di sampaikan pada Jumat sebelumnya dapat dievaluasi efektifitasnya. Jika tidak tindak lanjut dari setiap khutbah Jumat, maka dikhawatirkan tidak akan memberi pengaruh  signifikan terhadap akhlak dan perabikan tingkah laku masyarakat Islam. Hal ini dapat dipahami dengan kenyataan dewasa ini, banyak khutbah Jumat telah disampaikan, tetapi realisasi dan implementasi dari materi khutbah tidak menunjukkan peningkatan. Bahkan ada cenderung mengalami penurunan.

Mencermati hal tersebut, tentu perlu dipikirkan kembali bagaimana solusi agar optimalisasi Khutbah Jumat dapat dilakukan. Sehingga ke depan Khutbah Jumat bukan hanya sekedar gugur kewajiban. Tetapi khutbah Jumat benar-benar menjadi sarana penempaan akhlak umat Islam, sehingga keberadaan khutbah Jumat bukan sekedar seremonial belaka. Untuk itu, perlu  dibicarakan lebih lanjut, bagaimana membuat kurikulum khutbah Jumat, sehingga khutbah Jumat  bukan lagi sekedar ritual seremonial belaka.

AYAH SUKSES ANAK SUKSES

Oleh: Riwayat,

Riwayat Net-Orang  sukses berasal dari keluarga sukses?  Jika anggapan ini benar, tentu ada rahasia, kenapa mereka mampu mendidik anak mereka menjadi suskes? Apa  rahasianya sehingga mereka mencapai puncak kesuksesan? Banyak orang beranggapan bahwa anak sukses merupakan takdir kehidupannya. Bahwa keberhasilan anak ditentukan oleh takdir? Tidak  semua takdir yang diberikan Tuhan kepada manusia akan terpenuhi, sehingga manusia itu sendiri mengubah takdirnya.

Hal ini secara jelas diungkapkan Allah dalam Al-Quran,” bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.(QS. Ar-Radu:11),

Dari ayat ini jelaslah bahwa setiap langkah, setiap gerak, setiap waktu para malaikat akan selalu mengawasi manusia. Malaikat akan selalu mencata segala perubahan perilaku yang ada para diri manusia. Apakah ia mampu mengubah dirinya, apakah ia mampu mengeluarkan dirinya dari   himpitan maksiat, dan kemungkaran, sehingga takdir baiknya menguap dari ruh jiwa kehidupannya. Jika manusia mampu mengeluarkan dirinya dari kubangan dan belenggu  kejumudan, kekelaman dunia, maka ia akan menjadi manusia yang menerima takdir sesuai dengan yang dinginkannya.

Jika manusia berfikir, bahwa ia mampu berubah lebih baik, maka Allah berikan jalan untuknya jalan menuju kesuksesan. Sebaliknya, jika seseorang menganggap dirinya tidak mampu, berfikir bahwa dirinya tidak bisa, maka Allah jadikan dirinya orang yang tidak mampu dan tidak bias, karena pada dasarnya Allah sesuai dengan prasangka hambanya. Orang bijak mengatakan,” jika kamu berfikir bisa, maka kamu akan bisa.” Dengan demikian pada dasarnya kerpibadainya yang positif akan mampu membawa seseorang kepada kesuksesan. Dalam arti dalam kehidupannya tidak ada kata tidak mampu, tidak ada kata menyerah.

Pertanyaannya  adalah kepribadian sukses tersebut berasal dari mana, didikan siapa, kalau ada siapa yang mendidiknya. Kalau merujuk kepada pendidikan Islam, maka pendidikan pertama adalah ibu dan ayah. Didikan ibu dan bapaklah yang mungkin membawa pengaruh terhadap kesuksesan seorang anak. Aidh Al-Qarni, dalam bukunya Merawat anak, menyatakan paling tidak ada sepuluh hal yang perlu dilakukan dalam upaya mendidik anak menjadi peribadi yang soleh dan sukses, diantaranya adalah memilih istri yang soleh, memberi nama yang baik, memberikan air susu ibu(ASI) secara sempurna, memberikan keteladanan, menyuruh anak untuk salat, mengajarkan kepada mereka ilmu yang bermanfaat, menanamkan aneka keutamaan dan rasa percaya diri anak, terakhir mengapresiasi bakat dan minat anak.

Dari pendapat Aidh Al-Qarni,nyatalah bahwa peran kedua orang tua  dalam mengantarkan kesuksesan anak tidak dapat dianggap enteng. Pendidikan  di rumah merupakan pendidikan utama sebelum pendidikan yang diperoleh anak di luar rumah. Pendidikan di rumah merupakan pondasi awal bagi anak untuk membangun jati diri, karakter dan berbagai disipilin ilmu yang lain. Jika pondasi keilmuan, pondasi pendidikan yang diterima di rumah memadai, maka anak akan makin mudah untuk mewujudkan kesuksesannya.

Maka wajarlah kalau Nabi Muhmmad Saw menyatakan dalam hadisnya, bahwa orang tua mempunyai peran besar dalam membentuk anaknya.”Tidaklah seorang anak dilahirkan, kecuali ia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka orangtuanyalah yang menjadikan Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi,”(HR. Bukhari). Dari perkataan Nabi Muhammad Saw tersebut dapat dipahami bahwa kehadiran kedua orang tua dalam mendidik anak sangat dibutuhkan.

Jika kehadiran orang tua dalam mendidik anak tidak ada maka proses pembentukan anak sukses akan terkendala. Kehadiran yang dimaksud adalah kehadiaran orang tua dalam mengisi kepribadian anak setiap saat, setiap waktu.  Dalam arti orang tua perlu menjadi pendamping, sahabat dan tempat berbagi bagi anaknya. Tidak ada kata untuk tidak ada waktu bagi anak, terutama yang terkait dengan pembentukan karakter, kepribadian dan akhlaknya. Hal ini dijelaskan oleh Nbai Muhammad Saaw, bahwa.” Masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masing-masing dari kamu bertanggungjawab atas yang dipimpinnya..(HR. Bukhari Muslim).

Dari perkataan Nabi Muhammad Saw tersebut, dapat diambil pemahaman bahwa  orang tua mempunyai tanggung jawab dalam rumah tangganya. Tanggung jawab tersebut tidak hanya terletak di pundak bapak, tetapi juga ibu.  Dengan demikian ada semacam pembaian tanggung jawab.  Jika dicermati di tengah masyarakat, ada realitas bahwa yang mendidik anak itu hanya ibu, sedangkan bapak hanya bertugas mencari uang. Jika hal ini terjadi sebenarnya, telah ada kesalah fungsi dalam sebuah rumah tangga.

Meskipun secara hukum fiqh menafkahi istri adalah wajib, tetapi tidak hanya itu saja yang dilakukan oleh seorang ayah. Karena pada dasarnya ayah  mempunyai peran besar dalam upaya mendidik anak-anak  mereka. Ayahlah yang mempunyai nperan menjadikan anak-anak sukses.  Ayah  berperan menjadi figure dan keteladan anak-anaknya. Jika bapak tidak lagi acuh terhadap anaknya, maka jangan harap anak akan sukses.

Padahal, ayah mempunyai peran penting dalam mendidik anaknya agar sukses. Hal ini secara nyata dicontoh Allah dalam Al- Quran melalui sosok Lukman.”   Dan Sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, Yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. dan Barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. Dan  (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan  jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Luqman berkata): “Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan  janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.(QS. Lukman(31):12-19).

Berdasarkan ayat tersebut, dapat dipahami bahwa peran ayah dalam upaya mendidik anak sukses  sangat besar. Pendidikan yang diberikan seorang ayah kepada anaknya merupakan sesuatu yang berharga bagi anak. Maka pantas figur ayah menjadi penting di mata anaknya. Tidak ada alasan lagi bagi para ayah untuk tidak meluangkan waktu untuk bersama anak-anaknya. Sudah saatnya para ayah meninggalkan perilaku menyerahkan pembentukan karakter anaknya hanya kepada ibunya. Jika hal ini dilakukan maka jangan pernah bermimpi anak-anak kita akan menjadi anak sukses. Anak bukan hanya sekedar diberi makan, minum, sandan, papan dan pangan, tetapi lebih dari itu, aspek pendidikan rohani, aspek kepuasan batin secara keagamaan, dan psikologis perlu juga diperhatikan.

Tanggungjawab Orang Tua Terhadap Anak

Oleh: Riwayat,MA

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.(QS.Tahrim:6). Generasi yang baik, generasi yang cerdas akan berusaha mempersipakan anak cerdas dan soleh. Bukan itu saja, ia akan berusaha memelihara keturunannya, ia akan menjaga  anak-anak mereka. Bukan saja memelihara secara fisiknya belaka, tetapi lebih dari itu juga memelihara hal-hal yang bersifat rohaniah. Ia berusaha memelihara keturunannya dari netaka dunia dan neraka akherat. Neraka dunia merujuk kepada kesengsaraan dunia, sedangkan neraka akherat adalah kesengsaraan abadi.

Meskipun dalam al-Quran ada ayat yang menyuruh untuk memelihara anak dari kesusahan dunia dan kesusahan akherat, tetapi masih ada juga orang yang enggan dan tidak sadar dan bahkan membiarkan anak mereka terlantar di hutan dunia yang makin angker dan menyesatkan. Banyak anak terjebak dalah kehidupan yang menyedihkan. Tetapi keadaan ini tidak membuat mereka sadar akan pentingnya pendidikan anak. Terutama pendidikan yang bersifat rohaniah. Sehingga yang terjadi adalah banyak orang tua yang berusaha menyekolahkan anak-anak  mereka ke sekolah yang katanya menjanjikan masa depan. Keadaan ini diperparah dengan kuranperhatian orang tua terhadfap keagamaan anak. Dan pada akhirnya mereka terjebak kepada kehidupan dunia belaka, kehidupan yang kering dari ruh keakheratan.

Para orang tua banyak terjebak dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia bersifat sementara. Nabai Muhammad Saw menyatakan bahwa kehidupan dunia itu ibarat orang yang sedanag berteduh di sebuah pohon, sete;ah itu ia pergi kembali. Itulah gambaran dunia. Dunia bukan sebuah kekekalan, dunia bukan akhir dari sebuah kehidupan, tetapi dunia adalah lading untuk bercocok tanam kebaikan, dunia adalah tempat mempersiapkan bekal untuk perjalanan ke akherat.

Satu di antara bekal menuju akherat adalah dengan mempersiapkan anak-anak yang soleh, anak-anak yang mempunyai kualitas keislaman, keimanan yang baik kepada Allah. Aidh Al-Qarni dalam buku Falazaatul Akbaad, menyatakan ada sepulh langkah untuk mempersiapakan anak-anak yang berkualitas. Pertama,  dalam memilih istri atau suami hendaknya yang berkepribadian soleh atau solehah.

Jelaslah, bahwa persiapan untuk membentuk dan mempersipakan anak soleh sudah dimulai dari awal pemilihan pasangan hidup. Tidak heran jika Muhammad Saw memberikan arahan dan petunjuk bagaimana seharusnya mencari pasangan yang ideal dan baik dalam rangka mempersiapkan generasi yang soleh. Muhammad Saw menyatakan, bahwa, “seseorang wanita dinikhai karena empat factor, yaitu, karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dank arena agamanya. “(HR. Bukhari). Nah, dari arahan Nabi Muhammad Saw tersebut dapat dipahami bahwa untuk mendapatkan generasi yang baik hendaknya dimulai dengan pemilihan pasangan yang baik. Pasangan yang mampu memberikan jalan dan peluang lahirnya generasi yang cerdas dan membanggakan agaman dan orang tua. Mencari pasangan bukan sekadar pasangan, tetapi pasangan yang mampu mempersembahkan keturunan yang baik dan soleh. Banyak orang berpendapat bahwa factor kecantikan dan kekayaan akan menjadikan keluarga dan keturunan baik, padahal dalam ajaran Islam yang baik adalah faktor agamanya, meskipun tidak mengabaikan faktor yang lain, tetapi yang utama menjadi perhatian adalah faktro agamanya. Dengan faktor agama yang mantap memungkinkan meraih anak-anak yang soleh, keluarga yang mampu memelihara keturunan yang baik dan soleh. Ayah yang baik akan selalu berusaha memilihkan calon ibu yang baik bagi anak-anaknya kelak. Calon ayah yang baik adalah yang dari awala telah mempersiapkan calon ibu yang solelahah.

Dengan persiapan yang matang tersebut diharapkan akan mampu member kontribuysi positif terhadap upaya mempersipakan anak yang soleh. Dalam hal ini dapat juga dicermati bahwa tanggungjawab orang tua terhadap anak-anaknya bukan saja dimulai setelah mempunyai anak, tetatapi dalam upaya persiapan mencari jodoh sudah ada persiapan, sudah ada tanggungjawab. Orang tua yang baik adalah orang tua yang telah dari dini mempersipakan dirinya menjadi orang tua bertanggungjawab.

Hal ini dibuktikan dengan  memilihkan calon ibu yang baik bagi anak-naka mereka.  Kedua, memilihkan nama yang baik. Meskipun afda yang menyatakan apalah arti sebuah nama, tetapai dalam ajaran islam nama mempunyai arti penting, nama adalah doa, maka yang terbaik adalah memilih dan member anam-nama yang baik. Dalam hal ini Nabi Muhammad Saw menyatakan,”baguskanlah anama-nama kalian dan nama anak-anak kalian. Sesungguhnya pada hari kiamat ananti, kalian akan dipanggil dengan nama-nama kalian dan ayah-ayah kalian.(HR. Ahmad).

Dari hadis tersebut, dapat dipahami bahwa nama adalah sesuatu yang p;enting. Memberikan nama yang baik adalah anjuran dan jarana islam. Dengan demikian, member nama yang buruk bukanlah anjuran Islam. Dengan demikian, member nama yang baikm adalah ibadah, karena melakukan  anjuran Nabi Muhammad Saw. Dengan nama yang baik akan member harapan yang baik, nama yang baik adalah doa, sebaliknya nama yang buruk akan menjadi doa yang buruk.ketiga, member ASI sebagimana mestinya.

PEZINA DILARANG MEMIMPIN

Riwayat net- pezina dilarang memimpin. hal ini penting karena pezina adalah  bukti kepribadian yang tidak baik. sedangkan memimpin membutuhkan sosok pribadi yang santun, baik, sopan, santun dan berkarakter baik.

kita tidak ingin di negeri ini dipimpin oleh orang-orang yang suka mesum, orang-orang yang hobi berzina. apa jadinya Indonesia lima -dua puluh tahun yang akan datang, jika menerima sosok pribadi mesum menjadi pemimpin.

kita sadar bahwa dalam undang-undang semua warga berhak dipilih dan memilih, akan tetapi ada aturan yang tersirat bahwa yang berhak memimpin adalah orang-orang yang lebih baik, dari segala bidang dibanding dengan yang lain. artinya adalah sosok pribadi yang memang layaj untuk menjadi pemimpin, bukan karena polularitas, tetapi lebih kepada kebaikan akhlak, moral dan skill yang dimilikinya.

untuk itu kiranya masyarakat negeri ini cerdas memilih calon pemimpinnya, jangan hanya karena popularitas, lalau menjatuhkan pilih kepadanya. tetapi yang lebih penting adalah skill dan akhlaknya.

untuk itu perlu kiranya kerjasama berbagai pihak bahwa upaya penyadaran masyarakat dan parpol  membutuhkan kerja keras. upaya ini perlu terus digalakkan, agar para calon pemimpin dari kalangan pezina dpat dibendung dari upaya mencalonkan diri. apa jadinya negeri ini, jika para pemimpinnya mantan pezina. “apa kata dunia?”

Ebook Gratis Tragedi Mbah Priok

riwayat. net- tragedi kemanusiaan yang maha seram dan mengenaskan. sungguh peristiwa yang memiriskan dan menyayat hati. kebrutalan, dan kebengisan di tontonkan di tragedi mbah priok. untuk mengenang betapa kejamnya tragedi tersebut, maka saya mencoba menyusun buku digital, yang saya beri judul,”Tragedi Mbah priok,” dalam e book ini di muat berita dan foto, termasuk ulasan para pakar di bidangnya. semoga buku sederhana ini bermanfaat. oh ya.. buku ini gratis lho.. alias gak bayaruntuk download e book” tragedi Mbah Priok” dapat di download di sini

Lagi, Bom Bunuh Diri Tewaskan Dua Polisi Rusia

russiatrek.org

Dagestan

MOSKWA, riwayat.net — Aksi pengebom bunuh diri menewaskan dua polisi Rusia dan melukai seorang polisi lainnya di dekat markas polisi di sebuah kota di wilayah Ingushetia, Senin (5/4/2010).

Pengeboman di Karabulak, sekitar 20 kilometer dari ibu kota wilayah Magas, itu terjadi menyusul serangan bunuh diri di Moskwa dan di Dagestan, wilayah Kaukasus selama seminggu lalu yang telah menewaskan 50 orang. “Menurut informasi awal, seorang pengebom bunuh diri melakukan peledakan di luar kantor polisi di kota tersebut,” kata juru bicara Kementerian Dalam Negeri setempat. “Dua polisi tewas dan satu polisi terluka dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit,” kata juru bicara itu.

Ketakutan akan adanya aksi pengeboman baru terhadap jantung Rusia menguat setelah serangan bom kembar di rel kereta api di Dagestan pada hari Minggu kemarin yang menurut pasukan keamanan terkait dengan rencana serangan yang lain.

Rusia selama bertahun-tahun menghadapi aksi perlawanan kelompok Islam di wilayah-wilayah Kaukasus Utara, Dagestan, Chechnya, dan Ingushetia yang berpenduduk mayoritas Muslim. Para pejabat pun menuding militan Islam sebagai pelaku serangkaian kekerasan yang terjadi seminggu terakhir. Namun, penduduk lokal dan aktivis hak asasi manusia mengatakan, aksi itu didorong oleh korupsi yang dilakukan pemerintah dan sejumlah faktor lain.

Hari Rabu, pemberontak Chechnya mengaku bertanggung jawab atas dua pengeboman di Metro Moskwa yang menewaskan 39 orang dan mengancam melakukan serangan lanjutan terhadap kota-kota Rusia.

Penyadapan Dalam Islam

Riwayat Net-Penyadapan  menjadi momok menakutkan bagi mereka yang melanggar hukum. Penyadapan menjadi senjata ampuh untuk membongkar berbagai kejahatan korupsi, suap dan berbagai mafia peradilan. Banyak orang merasa tidak nyaman. Banyak orang merasa terancam eksistensinya.  Penyadapan menjadi makin dikenal, ketika kasus  suap yang melibatkan anggota DPR,  seperti al-Amin Nasution,  jaksa Urip dan Anggodo berhasil diungkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Percakapan Anggodo dan oknum- penegak hukum  disadap oleh KPK  dan diputar dan diperdengarkan di Mahkamah Konstitusi (MK),  serta disaksikan oleh jutaan masyarakat Indonesia.
Sebenarnya, Islam telah mengingatkan bahwa semua aktifitas, percakapan kita akan disadap oleh Allah Swt. Seperti apakah alat penyadap tersebut? Hanya Allah yang tahu, yang pasti alat penyadap canggih tersebut ada di tangan dan kaki kita. Alat tersebut semacam ” chip” yang mampu merekam dan menyadap semua perbuatan kita, baik yang tersembunyi sampai yang kelihatan, bahkan dari yang terucap dan yang masih  ada di dalam hati kita. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah  dalam firman-Nya, yang artinya, ”Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”. (QS. Yasiin: 65).
Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa Islam telah lebih dahulu menydarkan kepada manusia, bahwa akan ada penyadapan yang melekat dalam diri manusia. Alat penyadap tersebut dipasang dalam kaki dan tangan. Tak seorangpun mampu mengetahui seperti apa bentuk alat penyadap tersebut. Apakah ia berbentuk ”chip” yang sangat kecil dan halus, sehingga manusia tidak mampu melihat dengan mikroskop sekalipun?
Islam mengajarkan lebih awal tentang sistem penyadapan. Sistem penyadapan yang canggih. Dengan menyadari dan mnegetahui hal tersebut, maka sikap kehati-hatian dalam setiap aktifitas perlu diutamakan. Sebab,  apapun yang kita lakukan akan disadap oleh ”chip” yang ada di tangan dan kaki kita. Dan kita tidak akan mampu menghilangkan ”chip” yang di pasang di kaki dan tangan kita tersebut.
Penyadapan oleh ”chip” di tangan dan kaki kita lebih canggih dari alat-alat penyadap yang digunakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Alat penyadap tersebut langsung dibuat oleh Yang Maha Mengetahui, Maha Melihat dan maham Hebat yaitu Allah Swt.  Alat  penyadap tersebut berada di kaki dan tangan kita.  Yang letaknya sampai hari ini belum ada yang mengetahuinya. Hanya Allah Swt. Yang mengetahui keberadaannya. ”Chip” tersebut mampu merekam semua kegiatan kita selama hidup di dunia ini.
Meskipun kita selamat dari sadapan KPK, tetapi kita tidak akan pernah lepas dari sadapan Allah Swt melalui ”chip”yang ditanamkan di kaki dan tangan kita. Tangan dan kaki kitalah yang akan menjadi saksi atas semua yang pernah kita lalukan.   Allah Swt.  Berfirman  yang artinya:  ”Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”. (QS. Yasiin: 65).
Kaki dan tangan kita itulah yang akan merekam dan menyadap semua kegiatan kita, baik yang dirahasiakan maupun yang ditampakkan. Maka tidak ada seorangpun yang lepas dari penyadapan tersebut. Ketika hari akhir telah datang. Dan hari pengadilan tiba, maka penyadapan yang dilakukan oleh tangan dan kaki kita akan diputar di Mahkamah Allah Swt. Berita acaranya (semacam BAP)  di susun oleh  para malaikat. Jaksa penuntutnya juga dari kalangan Malaikat. Allah swt. sebagai Hakimnya. Dan para saksinya adalah tangan dan kaki kita sendiri.
Mungkin akan timbul pertanyaan, apa mungkin kaki dan tangan mampu merekam? Apa bisa tangan dan kaki merekam semua kegiatan kita? Apa mungkin kaki dan tangan mampu bicara? Bukankah hanya mulut yang bisa bicara? Benar hanya mulut yang mampu bicara, tetapi hal itu ketika di dunia. Kalau di akherat mulut tidak lagi berhak untuk bicara. Yang berhak berbiacar  di akherat nanti adalah kaki dan tangan kita. Sebagaimana firman Allah Swt.  yang artinya ”Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”. (QS. Yasin: 65).
Kalau di dunia seseorang dapat berkilah dan berdalih dengan berbagai argumentasi. Kalau di dunia ia mampu menolak tuduhan dengan permainan kata. Meskipun kita di dunia mampu berkelit dari belitan hukum dengan kepandaian mulut kita berargumen, tetapi di akherat mulut kita tidak lagi mampu berbicara, tetapi yang berhak berbicara adalah tangan dan kaki kita. Tangan dan kaki kitalah yang akan bersaksi atas semua perbuatan kita selama hidup di dunia.
Kemudian, apakah benar kaki dan tangan mampu merekam? Ada penelitian modern  yang menyatakan bahwa kaki dan tangan manusia mampu merekam. Sebagai contoh adalah pengalaman belajar naik sepeda sewaktu kecil. Dengan belajar bersepeda kaki dan tangan kit merekam semua kegiatan sewaktu belajar naik sepeda, hingga pada akhirnya kita mampu menaiki sepeda. Kemudian setelah dewasa dan kita telah kuliah, bahkan sampai mendapatkan pekerjaan. Kita  tidak pernah bersepeda lagi.
Suatu  saat, ketika kita  pensiun, kemudian kita sering sakit-sakitan. Pergilah  kita ke dokter. Kemudian dokter yang telah memeriksa kita menyatakan, penyakit dapat diobati dengan cara banyak naik sepeda. Lalu untuk menindaklanjuti saran dokter, kita membeli sepeda dan menaikinya. Lalu apa yang terjadi? Ternyata, kita mampu bersepeda tanpa harus  belajar lagi.
Nah, kejadian seperti ini, oleh  para ahli adalah karena kaki dan tangan tersebut merekam aktifitas naik sepeda sewaktu kecil dahulu. Beda halnya, dengan seseorang yang tidak pernah belajar naik sepeda hingga tua, ia tidak akan mampu naik menaiki sepeda. Hal ini sangat berbeda dengan seseorang yang pernah belajar naik sepeda sewaktu kecil. Maka meskipun telah lama ia tidak naik sepeda, maka ketika ia disuruh  menaiki sepeda, ia tidak perlu lagi belajar naik sepeda.
Dengan demikian, terjawablah keraguan sebagian orang yang meragukan kemampuan kaki dan tangan mampu merekam semua aktifitas manusia. Setelah hasil rekaman atau sadapan dari perbuatan kita telah  masuk ke pusat data. Maka di akherat nanti, atau tepatnya sewaktu ada pengadilan Allah, maka sadapan dari kaki dan tangan kita tersebut akan diputar dan diperdengarkan kepada seluruh makhluk yang ada di dunia ini.
Alangkah malunya, jika semua aktifitas jelek kita selama hidup di dunia akan diputar di mahkamah Allah Swt. Kalau di  dunia, mungkin sadapan yang dilakukan KPK hanya di perdengarkan di Mahkamah Agung, tetapi hasil penyadapan yang dilakukan oleh kaki dan tangan kita sendiri, akan diputar dan diperdengarkan di Mahkamah  Allah Swt.
Jika demikian, dapatkan kita menghapus semua rekaman tersebut? Dapatkah kita menghapus sadapan tersesbut? Jawabnya adalah bisa. Dengan apa, yaitu pertama dengan bertobat. Kedua dengan memperbanyak amal kebaikan. Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Bertakwalah kamu kepada Alloh di mana pun kamu berada, iringilah kesalahanmu dengan kebaikan niscaya ia dapat menghapuskannya dan pergaulilah semua manusia dengan budi pekerti yang baik.” (HR Tirmidzi).
Dengan  bertobat dan berbuat kebaikan,  maka rekaman dan sadapan amal jelek kita akan dihapus. Tetap,  jika kita tidak segera bertobat, maka hasil sadapan yang dilakukan oleh tangan dan kaki kita akan diputar dan diperdengarkan di Mahkamah Allah Swt.  Untuk itu, jika ingin menghapus sadapan itu, sehingga tidak diputar di Mahkamah Allah Swt. Maka yang hendaknya  kita lakukan adalah segera bertobat. Jika kita segera bertobat maka kita kan menjadi orang yang beruntung. Beruntung karena hasil rekaman dan sadapan tangan dan kaki kita tidak jadi diputar di Mahkamah Allah Swt. ”dan bertobatlah kamu kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur:31).
Bertobat dari segala dosa adalah keharusan. Jika kemaksiatan dan kesalahan berhubungan dengan sesama manusia, maka ada tiga syarat yang hendaknya kitalakukan, pertama menghentikan kemaksiatan atau kejahatan tersebut. Kedua, menyesali diri. Ketiga, bertekad untuk tidak melakukan kesalah dan kemaksiatan tersebut. Keempat dan membebaskan diri dari hak tersebut.
Untuk itu segeralah bertobat sebelum matahari terbit dari barat. Abu Hurairah ra. Berkata bahwa Rasulullah saw. Bersabda,” siapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari barat, maka Allah akan menerima taubatnya. ( HR. Muslim). Sebab jika matahari telah terbit dari barat maka pertobatan kita tidak akan diterima lagi. Dan konsekuensinya adalah rekaman dan sadapan amal jelek kita akan diputar di mahkamah Allah Swt.

Powered by WordPress | Palm Pre Reviews at Palm Pre Blog. | Thanks to Juicers, Free MMO and Fat burning furnace