Penyadapan Dalam Islam
Riwayat Net-Penyadapan menjadi momok menakutkan bagi mereka yang melanggar hukum. Penyadapan menjadi senjata ampuh untuk membongkar berbagai kejahatan korupsi, suap dan berbagai mafia peradilan. Banyak orang merasa tidak nyaman. Banyak orang merasa terancam eksistensinya. Penyadapan menjadi makin dikenal, ketika kasus suap yang melibatkan anggota DPR, seperti al-Amin Nasution, jaksa Urip dan Anggodo berhasil diungkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Percakapan Anggodo dan oknum- penegak hukum disadap oleh KPK dan diputar dan diperdengarkan di Mahkamah Konstitusi (MK), serta disaksikan oleh jutaan masyarakat Indonesia.
Sebenarnya, Islam telah mengingatkan bahwa semua aktifitas, percakapan kita akan disadap oleh Allah Swt. Seperti apakah alat penyadap tersebut? Hanya Allah yang tahu, yang pasti alat penyadap canggih tersebut ada di tangan dan kaki kita. Alat tersebut semacam ” chip” yang mampu merekam dan menyadap semua perbuatan kita, baik yang tersembunyi sampai yang kelihatan, bahkan dari yang terucap dan yang masih ada di dalam hati kita. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya, yang artinya, ”Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”. (QS. Yasiin: 65).
Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa Islam telah lebih dahulu menydarkan kepada manusia, bahwa akan ada penyadapan yang melekat dalam diri manusia. Alat penyadap tersebut dipasang dalam kaki dan tangan. Tak seorangpun mampu mengetahui seperti apa bentuk alat penyadap tersebut. Apakah ia berbentuk ”chip” yang sangat kecil dan halus, sehingga manusia tidak mampu melihat dengan mikroskop sekalipun?
Islam mengajarkan lebih awal tentang sistem penyadapan. Sistem penyadapan yang canggih. Dengan menyadari dan mnegetahui hal tersebut, maka sikap kehati-hatian dalam setiap aktifitas perlu diutamakan. Sebab, apapun yang kita lakukan akan disadap oleh ”chip” yang ada di tangan dan kaki kita. Dan kita tidak akan mampu menghilangkan ”chip” yang di pasang di kaki dan tangan kita tersebut.
Penyadapan oleh ”chip” di tangan dan kaki kita lebih canggih dari alat-alat penyadap yang digunakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Alat penyadap tersebut langsung dibuat oleh Yang Maha Mengetahui, Maha Melihat dan maham Hebat yaitu Allah Swt. Alat penyadap tersebut berada di kaki dan tangan kita. Yang letaknya sampai hari ini belum ada yang mengetahuinya. Hanya Allah Swt. Yang mengetahui keberadaannya. ”Chip” tersebut mampu merekam semua kegiatan kita selama hidup di dunia ini.
Meskipun kita selamat dari sadapan KPK, tetapi kita tidak akan pernah lepas dari sadapan Allah Swt melalui ”chip”yang ditanamkan di kaki dan tangan kita. Tangan dan kaki kitalah yang akan menjadi saksi atas semua yang pernah kita lalukan. Allah Swt. Berfirman yang artinya: ”Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”. (QS. Yasiin: 65).
Kaki dan tangan kita itulah yang akan merekam dan menyadap semua kegiatan kita, baik yang dirahasiakan maupun yang ditampakkan. Maka tidak ada seorangpun yang lepas dari penyadapan tersebut. Ketika hari akhir telah datang. Dan hari pengadilan tiba, maka penyadapan yang dilakukan oleh tangan dan kaki kita akan diputar di Mahkamah Allah Swt. Berita acaranya (semacam BAP) di susun oleh para malaikat. Jaksa penuntutnya juga dari kalangan Malaikat. Allah swt. sebagai Hakimnya. Dan para saksinya adalah tangan dan kaki kita sendiri.
Mungkin akan timbul pertanyaan, apa mungkin kaki dan tangan mampu merekam? Apa bisa tangan dan kaki merekam semua kegiatan kita? Apa mungkin kaki dan tangan mampu bicara? Bukankah hanya mulut yang bisa bicara? Benar hanya mulut yang mampu bicara, tetapi hal itu ketika di dunia. Kalau di akherat mulut tidak lagi berhak untuk bicara. Yang berhak berbiacar di akherat nanti adalah kaki dan tangan kita. Sebagaimana firman Allah Swt. yang artinya ”Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”. (QS. Yasin: 65).
Kalau di dunia seseorang dapat berkilah dan berdalih dengan berbagai argumentasi. Kalau di dunia ia mampu menolak tuduhan dengan permainan kata. Meskipun kita di dunia mampu berkelit dari belitan hukum dengan kepandaian mulut kita berargumen, tetapi di akherat mulut kita tidak lagi mampu berbicara, tetapi yang berhak berbicara adalah tangan dan kaki kita. Tangan dan kaki kitalah yang akan bersaksi atas semua perbuatan kita selama hidup di dunia.
Kemudian, apakah benar kaki dan tangan mampu merekam? Ada penelitian modern yang menyatakan bahwa kaki dan tangan manusia mampu merekam. Sebagai contoh adalah pengalaman belajar naik sepeda sewaktu kecil. Dengan belajar bersepeda kaki dan tangan kit merekam semua kegiatan sewaktu belajar naik sepeda, hingga pada akhirnya kita mampu menaiki sepeda. Kemudian setelah dewasa dan kita telah kuliah, bahkan sampai mendapatkan pekerjaan. Kita tidak pernah bersepeda lagi.
Suatu saat, ketika kita pensiun, kemudian kita sering sakit-sakitan. Pergilah kita ke dokter. Kemudian dokter yang telah memeriksa kita menyatakan, penyakit dapat diobati dengan cara banyak naik sepeda. Lalu untuk menindaklanjuti saran dokter, kita membeli sepeda dan menaikinya. Lalu apa yang terjadi? Ternyata, kita mampu bersepeda tanpa harus belajar lagi.
Nah, kejadian seperti ini, oleh para ahli adalah karena kaki dan tangan tersebut merekam aktifitas naik sepeda sewaktu kecil dahulu. Beda halnya, dengan seseorang yang tidak pernah belajar naik sepeda hingga tua, ia tidak akan mampu naik menaiki sepeda. Hal ini sangat berbeda dengan seseorang yang pernah belajar naik sepeda sewaktu kecil. Maka meskipun telah lama ia tidak naik sepeda, maka ketika ia disuruh menaiki sepeda, ia tidak perlu lagi belajar naik sepeda.
Dengan demikian, terjawablah keraguan sebagian orang yang meragukan kemampuan kaki dan tangan mampu merekam semua aktifitas manusia. Setelah hasil rekaman atau sadapan dari perbuatan kita telah masuk ke pusat data. Maka di akherat nanti, atau tepatnya sewaktu ada pengadilan Allah, maka sadapan dari kaki dan tangan kita tersebut akan diputar dan diperdengarkan kepada seluruh makhluk yang ada di dunia ini.
Alangkah malunya, jika semua aktifitas jelek kita selama hidup di dunia akan diputar di mahkamah Allah Swt. Kalau di dunia, mungkin sadapan yang dilakukan KPK hanya di perdengarkan di Mahkamah Agung, tetapi hasil penyadapan yang dilakukan oleh kaki dan tangan kita sendiri, akan diputar dan diperdengarkan di Mahkamah Allah Swt.
Jika demikian, dapatkan kita menghapus semua rekaman tersebut? Dapatkah kita menghapus sadapan tersesbut? Jawabnya adalah bisa. Dengan apa, yaitu pertama dengan bertobat. Kedua dengan memperbanyak amal kebaikan. Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Bertakwalah kamu kepada Alloh di mana pun kamu berada, iringilah kesalahanmu dengan kebaikan niscaya ia dapat menghapuskannya dan pergaulilah semua manusia dengan budi pekerti yang baik.” (HR Tirmidzi).
Dengan bertobat dan berbuat kebaikan, maka rekaman dan sadapan amal jelek kita akan dihapus. Tetap, jika kita tidak segera bertobat, maka hasil sadapan yang dilakukan oleh tangan dan kaki kita akan diputar dan diperdengarkan di Mahkamah Allah Swt. Untuk itu, jika ingin menghapus sadapan itu, sehingga tidak diputar di Mahkamah Allah Swt. Maka yang hendaknya kita lakukan adalah segera bertobat. Jika kita segera bertobat maka kita kan menjadi orang yang beruntung. Beruntung karena hasil rekaman dan sadapan tangan dan kaki kita tidak jadi diputar di Mahkamah Allah Swt. ”dan bertobatlah kamu kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur:31).
Bertobat dari segala dosa adalah keharusan. Jika kemaksiatan dan kesalahan berhubungan dengan sesama manusia, maka ada tiga syarat yang hendaknya kitalakukan, pertama menghentikan kemaksiatan atau kejahatan tersebut. Kedua, menyesali diri. Ketiga, bertekad untuk tidak melakukan kesalah dan kemaksiatan tersebut. Keempat dan membebaskan diri dari hak tersebut.
Untuk itu segeralah bertobat sebelum matahari terbit dari barat. Abu Hurairah ra. Berkata bahwa Rasulullah saw. Bersabda,” siapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari barat, maka Allah akan menerima taubatnya. ( HR. Muslim). Sebab jika matahari telah terbit dari barat maka pertobatan kita tidak akan diterima lagi. Dan konsekuensinya adalah rekaman dan sadapan amal jelek kita akan diputar di mahkamah Allah Swt.




